Berita

Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Dokter di Tengah Meningkatnya Kasus Influenza

70
×

Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Dokter di Tengah Meningkatnya Kasus Influenza

Sebarkan artikel ini
super flu
Tenaga medis menjelaskan istilah “super flu” yang ramai diperbincangkan masyarakat seiring meningkatnya kasus influenza di sejumlah daerah.

VISIBANTEN.COM, SERANG — Meningkatnya kasus influenza di sejumlah daerah memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, khususnya para orang tua, mengenai istilah “super flu” yang belakangan ramai diperbincangkan. Banyak yang mempertanyakan apakah super flu merupakan penyakit baru atau berbeda dari influenza yang selama ini dikenal.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus yang disebut sebagai super flu berdasarkan hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS). Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok anak-anak dan perempuan. Namun demikian, jumlah tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.

Dokter spesialis anak Bethsaida Hospital Serang, dr. Viany Rehansyah P, M.Ked(Ped), Sp.A, menegaskan bahwa super flu sejatinya bukan istilah medis resmi.

“Super flu sendiri sebenarnya bukan istilah medis. Super flu menggambarkan flu akibat virus influenza yang sekarang sedang banyak terjadi dan penyebarannya lebih cepat dan membuat gejalanya terasa lebih nyata, terutama pada anak,” ujar dr. Viany.

Secara medis, kasus yang disebut sebagai super flu tetap tergolong influenza, terutama yang disebabkan oleh virus Influenza A varian H3N2 subclade K. Pada anak-anak, gejala yang muncul dapat bervariasi dan tidak selalu sama antara satu pasien dengan lainnya.

“Tidak semua anak menunjukkan gejala yang sama. Kadang hanya terlihat lebih lemas, dan ini tetap perlu diperhatikan oleh orang tua,” jelas dr. Viany.

Selain demam, batuk, dan pilek, sebagian anak hanya menunjukkan penurunan aktivitas dan nafsu makan. Kondisi ini kerap membuat orang tua terlambat menyadari bahwa anak sedang mengalami infeksi influenza.

Sementara itu, pada kelompok dewasa, gejala influenza umumnya lebih mudah dikenali. Dokter spesialis penyakit dalam Bethsaida Hospital Serang, dr. Michael Y, Sp.PD, menyebutkan bahwa influenza pada orang dewasa sering disertai demam, batuk, nyeri tenggorokan, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi.

“Pada orang dewasa, influenza sering disertai rasa pegal dan lemas yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari,” kata dr. Michael.

Ia mengimbau masyarakat untuk segera berkonsultasi ke dokter apabila gejala tidak kunjung membaik, demam berlangsung beberapa hari, atau aktivitas menurun drastis. Kelompok balita, lansia, serta penderita penyakit kronik seperti diabetes, gangguan autoimun, kanker, dan gangguan ginjal juga diminta lebih waspada karena berisiko mengalami kondisi yang lebih berat.

Penanganan kasus super flu, baik pada anak maupun dewasa, dilakukan sesuai kondisi masing-masing pasien. Pada anak, fokus utama meliputi pemantauan kondisi, istirahat yang cukup, pemenuhan cairan, serta terapi simptomatik sesuai anjuran dokter. Pada dewasa, penanganan diarahkan untuk membantu pemulihan tubuh, meredakan gejala, dan mencegah gangguan aktivitas berkepanjangan.

“Penanganan influenza bertujuan membantu tubuh pulih secara optimal, meringankan gejala, dan mencegah gangguan aktivitas, dengan evaluasi medis sesuai kondisi pasien,” ujar dr. Michael.

Virus influenza diketahui menular melalui droplet atau percikan cairan dari mulut dan hidung. Oleh karena itu, langkah pencegahan tetap menjadi kunci utama, mulai dari vaksinasi influenza tahunan, penggunaan masker di keramaian, mencuci tangan secara rutin, hingga menerapkan etika batuk dan bersin serta isolasi mandiri saat sakit.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya, menekankan pentingnya pelayanan kesehatan yang terkoordinasi dalam menangani infeksi saluran pernapasan.

“Kami tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada edukasi, pemantauan, dan pendampingan pasien serta keluarga. Dengan sistem pelayanan yang terkoordinasi dan lingkungan hospital yang mendukung, kami berharap pasien dapat menjalani proses pemulihan dengan lebih optimal dan tenang,” pungkas dr. Tirta. (*)