“Belum lagi kebutuhan untuk suplai ribuan SPPG yang sudah beroperasi di Banten. Jadi usaha sektor pertanian itu sebenarnya sangat menjanjikan,” kata Andra Soni.
Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, M Nasir, menyebut para peserta telah menjalani diklat selama 50 hari agar mampu beradaptasi dengan lingkungan dan budaya Jepang.
Dari 48 peserta awal, 21 berhasil lolos seleksi dan dijadwalkan diberangkatkan pada 13 April.
Selama magang, para peserta tinggal di perkampungan Jepang, terlibat dalam sektor pertanian dan peternakan selama 11–26 bulan.
Bacaan Lainnya:
“Jepang adalah negara barometer dengan penerapan teknologi terbaik dalam sektor pertaniannya,” jelas M Nasir.
“Maka dari itu, saya berharap ketika pulang nanti, teman-teman ini bisa menerapkan yang didapat di sana untuk kemajuan pertanian di Banten,” tambahnya.
Salah satu peserta, Eva Luthfiah asal Kabupaten Lebak, menyatakan komitmennya untuk memajukan pertanian setelah pulang.
Latar belakang keluarga petani dan pendidikan di bidang pertanian mendorongnya mengikuti program ini.



