“Silakan tanam apa saja di pekarangan rumah, bisa ubi, sayur, cabe. Kita bantu bibitnya, pupuknya, bahkan modalnya melalui program pinjaman lunak. Yang penting ada usaha dari bawah,” tambahnya.
Tidak berhenti di dapur rumah tangga, hasil olahan pangan lokal ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam program-program pemerintah seperti makanan tambahan untuk sekolah, posyandu, dan Puskesmas, selama memenuhi standar B2SA: Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada lomba semata, namun dapat menjadi gerakan berkelanjutan dalam memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan membuka peluang ekonomi melalui olahan pangan lokal,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Asep Jatmika, menjelaskan bahwa lomba tahun ini terbagi dalam dua kategori:
Menu Sarapan dalam Box untuk anak sekolah, khususnya remaja putri usia 13–15 tahun, berbasis pangan lokal. Produk Olahan Komersial Pangan Lokal, yang mendorong pertumbuhan UMKM berbasis pangan.




