“Ada sekitar 38 hektar yang diperuntukkan bagi sektor pertanian dan 47 hektar untuk kawasan pemukiman. Di dalamnya juga direncanakan pembangunan tandon air. Yang terpenting, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat” tambahnya.
“Pembahasan teknis pemanfaatan lahan ini akan segera ditindaklanjuti oleh perangkat daerah terkait dari Pemprov DKI Jakarta dan Pemkab Tangerang,” tutup Maesyal.
Selain optimalisasi lahan, pertemuan membahas isu strategis perkotaan lain, antara lain: Pengelolaan Sampah: Banten ditetapkan sebagai lokasi strategis proyek nasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL/PLTSa), termasuk di kawasan aglomerasi Tangerang Raya.
Bacaan Lainnya:
Pengendalian Banjir: Pembangunan embung besar digagas sebagai kolaborasi DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang, berfungsi mengendalikan debit air sekaligus menjadi sumber air baku bagi masyarakat.
Pengembangan Transportasi Massal: Kajian teknis perpanjangan jalur Mass Rapid Transit (MRT) menuju Tangerang dimaksudkan untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas antarwilayah.



