VISIBANTEN.COM,- SERANG – Merasa lelah setelah bekerja merupakan hal yang biasa. Namun, jika rasa lelah tak kunjung hilang meski sudah beristirahat, semangat bekerja terus menurun, hingga sulit memulai aktivitas setiap hari, kondisi tersebut patut diwaspadai. Bisa jadi, seseorang sedang mengalami burnout.
Fenomena burnout kini semakin banyak dialami para pekerja. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2019 telah memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai sindrom yang berkaitan dengan pekerjaan.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Bethsaida Hospital Serang, dr. Margaretha, Sp.KJ, menjelaskan bahwa burnout bukan sekadar rasa lelah biasa maupun tanda seseorang memiliki mental yang lemah.
“Burnout bukan tentang tidak cukup kuat atau tidak cukup bersyukur. Burnout terjadi karena terlalu lama memberi tanpa cukup mengisi kembali. Dan itulah yang perlu kita ubah, bukan orangnya, tapi caranya,” ujarnya.
Menurutnya, burnout berkembang secara perlahan sehingga banyak orang tidak menyadari kondisinya. Gejalanya tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga emosional dan perilaku.
Secara fisik, burnout ditandai dengan kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur, sakit kepala, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga daya tahan tubuh yang menurun. Dari sisi emosional, penderitanya kerap kehilangan motivasi, mudah tersinggung, merasa hampa, dan menganggap usahanya tidak pernah dihargai.
Sementara itu, perubahan perilaku juga dapat terlihat melalui menurunnya produktivitas, kebiasaan menunda pekerjaan, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga bergantung pada kafein atau kebiasaan lain untuk bertahan menjalani aktivitas.
Dr. Margaretha menegaskan bahwa burnout berbeda dengan stres kerja biasa. Orang yang mengalami stres umumnya masih memiliki motivasi dan dapat pulih setelah beristirahat. Sebaliknya, penderita burnout tetap merasa kosong meski sudah mengambil waktu libur.
Burnout dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti beban kerja berlebihan, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, minim apresiasi, lingkungan kerja yang tidak sehat, hingga kaburnya batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Untuk mencegah kondisi tersebut semakin parah, ia menyarankan agar pekerja mulai mengenali tanda-tandanya sejak dini, menetapkan batas waktu kerja, menjaga pola tidur, rutin berolahraga, meluangkan waktu untuk aktivitas yang disukai, serta tidak ragu mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional.
“Pemulihan dimulai dari keberanian untuk berkata: saya butuh bantuan. Dan itu adalah hal yang paling kuat yang bisa dilakukan seseorang,” katanya.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta, menambahkan bahwa kesehatan mental harus mendapat perhatian yang sama dengan kesehatan fisik. Menurutnya, setiap orang berhak memperoleh layanan yang aman dan bebas stigma ketika menghadapi tekanan maupun kelelahan akibat pekerjaan.



