BeritaSerang

Masih Batuk Setelah Terpapar Abu Anak Krakatau? Ini yang Perlu Diperhatikan

7
×

Masih Batuk Setelah Terpapar Abu Anak Krakatau? Ini yang Perlu Diperhatikan

Sebarkan artikel ini
Gangguan Pernapasan
Batuk yang tak kunjung hilang, sesak napas, dada terasa berat, mata perih hingga napas berbunyi bisa menjadi tanda tubuh terdampak paparan abu. Jangan sepelekan keluhan yang muncul, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan PPOK.

VISIBANTEN.COM, SERANG — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi sejak awal September 2026 mungkin telah berakhir. Tetapi dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan tidak selalu ikut berhenti ketika aktivitas erupsi mereda.

Pada periode erupsi, abu vulkanik sempat terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Menurut laporan BMKG, erupsi yang dimulai pada 4 September 2026 menghasilkan kolom abu dengan ketinggian hingga 20.000 kaki ke arah timur dan 50.000 kaki ke arah barat.

Bagi masyarakat yang sempat berada di wilayah terdampak, termasuk Serang dan sekitarnya, perhatian terhadap kesehatan pernapasan tetap penting.

Mengutip penjelasan Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Serang, dr. Rifian Arnanda, Sp. P, debu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil sehingga mampu masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian terdalam paru-paru.

“Debu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikelnya bisa masuk sangat dalam ke paru-paru dan memicu peradangan serius, terutama pada mereka yang sudah memiliki kondisi pernapasan seperti asma atau PPOK,” jelas dr. Rifian Arnanda, Sp. P.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan munculnya gejala pernapasan antara lain:

  1. Batuk kering yang terus-menerus, disertai rasa gatal atau iritasi di tenggorokan.
  2. Sesak napas atau rasa berat di dada, terutama setelah beraktivitas.
  3. Hidung tersumbat atau mengeluarkan lendir berlebihan.
  4. Mata merah, perih, dan berair akibat iritasi.
  5. Mengi atau napas berbunyi, terutama pada penderita asma.

Kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru seperti asma dan PPOK. “Orang dewasa sehat pun tetap dapat mengalami gangguan apabila sebelumnya terpapar abu dalam jumlah cukup banyak,” sebutnya.

Apa yang Bisa Dilakukan Setelah Paparan Abu Berakhir?

Meskipun kondisi udara sudah kembali membaik, masyarakat yang sebelumnya terpapar dapat tetap memperhatikan kondisi tubuh dan menjaga kebersihan lingkungan.

1. Bersihkan sisa abu dengan cara yang tepat

Jika masih terdapat endapan abu di rumah atau lingkungan, hindari menyapu kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan. Pembersihan dengan metode basah dapat membantu mengurangi abu yang terangkat ke udara.

2. Perhatikan kualitas udara di dalam rumah

Pastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik ketika kondisi udara di luar sudah memungkinkan. Jika masih terdapat partikel debu, penggunaan air purifier dengan filter HEPA dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.

3. Kurangi paparan lanjutan

Gunakan masker yang mampu menyaring partikel ketika harus berada di lingkungan yang masih berdebu. Masker respirator seperti N95 memiliki kemampuan filtrasi partikel yang lebih baik dibandingkan masker kain biasa.

4. Perhatikan kondisi tubuh beberapa hari setelah paparan

Jangan mengabaikan batuk, sesak, dada terasa berat, atau mengi yang muncul setelah periode paparan abu, terutama jika keluhan menetap atau semakin berat.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera cari bantuan medis apabila mengalami sesak napas yang memburuk, nyeri dada yang menetap, napas berbunyi disertai kesulitan berbicara, bibir atau ujung jari membiru, atau demam tinggi yang disertai gejala pernapasan.

Kondisi tersebut memerlukan evaluasi medis dan tidak sebaiknya ditunggu, terutama pada kelompok rentan atau orang yang memiliki riwayat penyakit paru.

Layanan Paru Bethsaida Hospital Serang

Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi dan skrining kesehatan paru dengan dukungan fasilitas diagnostik dan tenaga medis untuk membantu mengevaluasi berbagai keluhan pernapasan.

Masyarakat yang sebelumnya berada di wilayah terdampak dan kemudian mengalami keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak, atau napas berbunyi dapat berkonsultasi untuk mendapatkan evaluasi kondisi paru dan penanganan yang sesuai.

Komitmen Bethsaida Hospital Serang terhadap kesehatan masyarakat Banten juga disampaikan oleh Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya.

Bethsaida Hospital Serang berkomitmen untuk hadir bagi masyarakat Banten, terutama di saat kualitas udara menjadi ancaman nyata.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat di wilayah yang sebelumnya terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk tidak meremehkan keluhan pernapasan yang muncul. Fasilitas dan tenaga medis kami siap memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.