Cilegon

Pengapuran Sendi Bikin Sulit Berjalan, Kenali Solusi Medis Tanpa Harus Langsung Operasi

7
×

Pengapuran Sendi Bikin Sulit Berjalan, Kenali Solusi Medis Tanpa Harus Langsung Operasi

Sebarkan artikel ini
Nyeri sendi yang terus berulang dan mulai membatasi aktivitas perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab serta tingkat kerusakannya.

VISIBANTEN.COM, SERANG – Pengapuran sendi atau osteoartritis bisa membuat aktivitas sehari-hari terasa semakin sulit. Mulai dari nyeri lutut saat naik tangga, kesulitan berdiri setelah duduk terlalu lama, hingga rasa sakit di panggul ketika berjalan.

Meski dapat mengganggu mobilitas, pengapuran sendi tidak selalu harus ditangani melalui operasi. Ada sejumlah pilihan pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan fungsi sendi, bergantung pada tingkat kerusakan serta kondisi pasien.

 

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Bethsaida Hospital Serang, dr. Yosia Handoko, Sp.OT, FICS, menjelaskan bahwa osteoartritis merupakan kondisi ketika bantalan tulang rawan pada sendi mengalami kerusakan secara bertahap.

Akibatnya, sendi dapat mengalami nyeri, kaku, bengkak, hingga keterbatasan gerak. Kondisi ini memang lebih sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi juga dapat dialami orang dengan berat badan berlebih, riwayat cedera, maupun aktivitas yang memberikan tekanan berulang pada sendi.

“Nyeri sendi yang terus berulang dan mulai membatasi aktivitas perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab serta tingkat kerusakannya. Penanganan yang tepat dapat membantu mempertahankan fungsi gerak dan kualitas hidup pasien,” jelas dr. Yosia.

 

Pengobatan Pengapuran Sendi Tidak Selalu Operasi

Sebelum menentukan tindakan medis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai kondisi sendi dan kemampuan gerak pasien. Pemeriksaan tersebut dapat dilengkapi dengan rontgen atau MRI sesuai kebutuhan.

Pada kerusakan sendi yang belum terlalu berat, penanganan dapat dilakukan tanpa operasi. Beberapa pilihan di antaranya pemberian obat antinyeri, fisioterapi, latihan penguatan otot, pengaturan aktivitas, serta pengendalian berat badan.

Namun, apabila kerusakan sendi sudah memasuki tahap berat dan pengobatan tanpa operasi tidak lagi memberikan hasil optimal, tindakan penggantian sendi dapat menjadi salah satu pilihan.

 

Mengenal Operasi Penggantian Sendi Lutut dan Panggul

Dalam dunia medis, terdapat dua prosedur penggantian sendi yang dikenal dengan istilah Total Hip Replacement (THR) dan Total Knee Replacement (TKR). Keduanya merupakan tindakan operasi untuk mengganti bagian sendi yang mengalami kerusakan dengan implan buatan. Perbedaannya terletak pada lokasi sendi yang ditangani.

 

  1. Total Hip Replacement (THR)

THR merupakan prosedur penggantian sendi panggul yang menghubungkan tulang paha dengan tulang panggul. Sendi ini memiliki peran penting dalam menopang tubuh dan membantu pergerakan kaki ketika berjalan.

Dalam prosedur ini, dokter mengganti kepala tulang paha serta permukaan rongga sendi panggul yang mengalami kerusakan dengan implan buatan. Tindakan THR dapat dipertimbangkan pada pasien dengan pengapuran sendi panggul berat, kerusakan tulang akibat gangguan aliran darah, maupun kondisi patah tulang panggul tertentu.

 

  1. Total Knee Replacement (TKR)

Berbeda dengan THR, TKR merupakan prosedur penggantian permukaan sendi lutut yang menghubungkan tulang paha dan tulang kering. Sendi lutut berfungsi menopang berat badan sekaligus membantu gerakan menekuk dan meluruskan kaki.

Pada prosedur TKR, permukaan sendi lutut yang rusak diganti dengan komponen implan buatan. Tindakan ini umumnya dipertimbangkan pada pasien dengan pengapuran lutut berat, radang sendi kronis, atau kerusakan akibat cedera.

 

“THR dilakukan pada sendi panggul, sedangkan TKR pada sendi lutut. Keduanya bertujuan mengurangi nyeri, memperbaiki fungsi sendi, dan membantu pasien kembali beraktivitas dengan lebih nyaman,” terang dr. Yosia.

 

Pemulihan Dilanjutkan dengan Fisioterapi

Setelah menjalani operasi penggantian sendi, pasien tetap membutuhkan proses rehabilitasi dan fisioterapi secara bertahap.

Tahapan pemulihan ini bertujuan mengembalikan kekuatan otot, meningkatkan kelenturan sendi, serta melatih kemampuan berjalan. Lama pemulihan dapat berbeda pada setiap pasien, bergantung pada kondisi kesehatan dan respons tubuh terhadap tindakan medis.

 

Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandi, mengatakan penanganan gangguan tulang dan sendi membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari ketepatan diagnosis, pemilihan tindakan medis, hingga rehabilitasi yang berkesinambungan.

Melalui Orthopaedi & Trauma Center, Bethsaida Hospital Serang menghadirkan layanan penanganan gangguan tulang, sendi, dan cedera yang didukung dokter spesialis ortopedi dan traumatologi.

Layanan tersebut juga didukung fasilitas pemeriksaan X-ray, CT Scan 128 Slice, MRI 1.5 Tesla, kamar operasi, serta rehabilitasi medik.

 

“Kami terus memperkuat layanan yang didukung tenaga medis berkompeten dan fasilitas modern. Bagi kami, keberhasilan penanganan bukan hanya diukur dari berkurangnya nyeri, tetapi juga dari kemampuan pasien untuk kembali bergerak, mempertahankan kemandirian, dan menjalani kehidupan yang lebih berkualitas,” tutup dr. Tirta.